Tuesday, November 5, 2019

N.V. ALGEMEENE NEDERLANDSCH-INDISCHE ELECTRICITEIS MAATSCHAPPIJ (ANIEM) van SOERABAIA CAGAR BUDAYA INDONESIA


Plat masa kolonial "hoogspanning levensgevaar" yang artinya "bahaya tegangan tinggi"
 

PROLOG
Kelistrikan di Hindia Belanda dimulai pada tahun 1897 ketika perusahaan listrik pertama yang bernama Nederlandche Indische Electriciteit Maatschappij (NIEM atau Perusahaan Listrik Hindia Belanda), yang merupakan perusahaan yang berada di bawah N.V. Handelsvennootschap yang sebelumnya bernama Maintz & Co. Perusahaan ini berpusat di Amsterdam, Belanda. Di Batavia, NIEM membangun PLTU di Gambir di tepi Sungai Ciliwung. PLTU berkekuatan 3200+3000+1350 kW tersebut merupakan pembangkit listrik tenaga uap pertama di Hindia Belanda dan memasok kebutuhan listrik di Batavia dan sekitarnya. Saat ini PLTU tersebut sudah tidak ada lagi. NIEM berekspansi ke Surabaya dengan mendirikan perusahaan gas yang bernama Nederlandsche Indische Gas Maatschappij (NIGM) hingga akhir abad XIX. Pada tahun 1909, perusahaan ini diberi hak untuk membangun beberapa pembangkit tenaga listrik berikut sistem distribusinya ke kota-kota besar di Jawa.
 
Surabaya Dalam Pelita Malam Hari

Perbandingan kantor listrik di Surabaya pada masa kolonial dengan masa sekarang

Menurut von Faber kota Surabaya ketika malam pada kisaran tahun 1850 belum ada penerangan sama sekali. Para penduduk Surabaya umumnya pada malam hari hanya berdiam diri didalam rumah. Menyikapi hal ini pada tahun 1864 pemerintah kolonial memberikan ketentuan jika seorang Belanda ingin menghadiri pertemuan disuatu tempat pada malam hari maka seorang Belanda tersebut harus menyuruh pembantunya untuk mendahuluinya dengan membawa lampu sebagai penerangan dan penunjuk jalan. Pada tahun 1858 pemerintah Belanda mengadakan perubahan dengan memberikan lampu penerang disekitar jalan dengan memanfaatkan lampu ublik yang menggunakan minyak kelapa sebagai bahan bakarnya. Pada tahun 1877 diadakan persiapan untuk pembangunan pabrik gas di Gembong, sehingga penggunaan lampu penerangan beralih menjadi bahan bakar gas. Pada tahun 1923 dilakukan pembaharuan dengan menggunakan listrik sebagai tenaga penerangan menggantikan bahan bakar gas. Perusahaan listrik ini kemudian dikenal dengan nama N.V. Algemeene Nederlandsch Indische Electricities atau disingkat ANIEM. Perusahaan ini berada di bawah N.V. Handelsvennootschap yang sebelumnya bernama Maintz & Co. Ketika ANIEM berdiri pada tahun 1909, perusahaan ini diberi hak untuk membangun beberapa pembangkit tenaga listrik berikut sistem distribusinya di kota-kota besar di Jawa. Dalam waktu yang tidak terlalu lama ANIEM berkembang menjadi perusahaan listrik swasta terbesar di Hindia Belanda dan menguasai distribusi sekitar 40 persen dari kebutuhan kelistrikan di negeri ini. Seiring dengan permintaan tenaga listrik yang tinggi, ANIEM juga melakukan percepatan ekspansi. Tanggal 26 Agustus 1921 perusahaan ini mendapatkan konsesi di Banjarmasin yang kontraknya berlaku sampai tanggal 31 Desember 1960.  Bersamaan dengan melonjaknya akan kebutuhan tenaga listrik, dilakukan perluasan gedung ANIEM yang bersebelahan dengan gedung ANIEM yang lama. Desain gedung diserahkan kepada biro arsitek N.V. Architecten- en Ingenieursbureau Job en Sprey yang berkantor di Surabaya. Sedangkan, pelaksanaan fisiknya dikerjakan oleh N.V. Nederlandsche Aanneming Maatschappij v/h Fa. H.F. Boersma (NEDAM) pada  tahun 1930. Gedung ANIEM memiliki gaya arsitektur Art Deco yang dikombinasikan dengan gaya modern, yang ditandai dengan permainan garis-garis geometris, bidang-bidang datar serta permainan vertikal dan horisontal mendominasi tampak depannya. Kinerja bagus ANIEM harus terputus karena pendudukan pasukan Jepang atas Hindia Belanda pada tahun 1942. Sejak itu, perusahaan listrik diambil alih oleh pemerintah Jepang. Urusan kelistrikan di seluruh Jawa kemudian ditangani oleh sebuah lembaga yag bernama Djawa Denki Djigjo Kosja.

Perbandingan kantor listrik di Surabaya pada masa kolonial dengan masa sekarang
 
Pada tahun 1947 Belanda berusaha kembali ke Indonesia dengan melancarkan Agresi Militer. Pada saat itu ANIEM juga dihidupkan kembali. Upaya yang dilakukan adalah melakukan rehabilitasi besar-besaran terhadap pembangkit-pembangkit yang rusak akibat salah urus pada masa pendudukan Jepang. Pada tahun 1953 pemerintah Indonesia membentuk Panitia Nasionalisasi Listrik yang diketuai oleh Putuhena dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Tenaga. Panitia ini bertugas untuk meletakkan prinsip-prinsip untuk menasionalisasi perusahaan-perusahaan litrik swasta. Tanggal 3 Oktober 1953 Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga mengeluarkan Surat Keputusan Nomor U.16/7/5 tentang kekuasaan melaksanakan pengoperan perusahaan-perusahaan listrik partikelir. Pada tahun itu juga keluar Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 163 tahun 1953 tentang nasionalisasi semua perusahaan listrik di seluruh Indonesia. Dua surat keputusan tersebut menjadi landasan awal proses nasionaliasi ANIEM yang termasuk dalam lingkup surat keputusan tersebut. Perusahaan listrik warisan pemerintahan Hindia Belanda tersebut akhirnya dikuasai dan dikelola oleh pemerintah Indonesia melalui Perusahaan Listrik Negara (PLN), dan gedung yang dulunya menjadi gedung ANIEM juga menjadi gedung operasional PLN. Termasuk gedung yang megah di Jalan Gemblongan ini menjadi salah satu kantor yang digunakan oleh PLN, tepatnya Gedung PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Area Surabaya Utara. Beruntung gedung tersebut terpelihara dengan baik sehingga kita dapat menyaksikan saksi bisu dari perkembangan listrik di Surabaya dari masa kolonial sampai sekarang. Sudah seharusnya kita menjaga dengan cara mempelajari warisan masa lalu sebagi bentuk penghargaan dan komitmen kita dalam menjaga keutuhan bangunan cagar budaya.

SELAMATKAN BANGUNAN CAGAR BUDAYA
SELAMI KOTAMU DARI MASA LALU
JAGA KOTAMU DI MASA KINI 

sumber
Tropenmuseum
Oud Soerabaia, Von Faber
Ir Handinoto, Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya 1870-1940
Kekunaan.blogspot.com


Berikut adalah dokumentasi pribadi ketika penulis mengunjungi PLN Gemblongan di Surabaya


Panel Listrik masa Kolonial
Bunker bawah tanah dari gedung PLN

Panel listrik masa Kolonial

Kaca patri didalam gedung PLN

Balkon Gedung PLN


AYO IKUTI KOMPETISI " BLOG CAGAR BUDAYA INDONESIA"
"RAWAT ATAU MUSNAH!"

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhH5q9p1-0SwCx4ppCNXU1Y37m7oQiElMSuEwopo8nZa7A7kh8O3zundzGNlxGYrUhx3rBaFL6UP5jCjbV5QyqOAFp2UAko18Vz8H0oNkKFtf8EOArHhRX2lgDv1Wf1Uby2CXUtsIr2MD0/s640/Lomba+IIDN.png

No comments:

Post a Comment