PROLOG
Makam di Indonesia pada masa sekarang umumnya berbentuk sederhana dengan penanda nisan yang menjadi identitas dari siapa yang beristirahat di dalamnya. Pada masyarakat Islam umumnya jenazah akan dibungkus dengan kain kafan lalu dikebumikan dengan dipasang nisan yang diberi nama tanggal lahir dan kematian. Masyarakat etnis China membuat makam dengan ukuran yang sangat besar dengan liang lahat yang berbentuk seperti rungan, umumnya disebut dengan nama makam "bong". Umat Nasrani juga memiliki makam yang jenazahnya diletakkan kedalm peti lalu dikubur dengan nisan berbentuk salib. Lalu bagaimana makam masyarakat Belanda yang dulu pernah tinggal dan menetap di Indonesia??
Masyarakat Belanda sejak dulu memiliki kebiasaan
membangun areal pemakaman yang dekat dengan lingkungan Gereja. Pada masa
kolonial Belanda, kebiasaaan ini juga dilakukan disekitaran lingkungan gereja.
Namun lingkungan gereja yang dekat dengan wilayah pemukiman warga juga
menimbulkan permasalahan kesehatan. Terlebih bangsa Belanda yang datang ke
wilayah Hindia Belanda banyak sekali yang terkena penyakit topis (tidak tahan
dengan cuaca yang sangat berbeda dengan Eropa) sehigga banyak sekali bangsa
Belanda yang meninggal di usia muda (makam peneleh banyak sekali jenazah yang
berumur muda). Maka dari itu sejak tanggal 25 Januari 1793 Majelis Gereja
melarang pemakaman disekitar areal gereja. Pemakaman selanjutnya diarahkan
diluar kota tepi barat, tepatnya didaerah Krambangan. Setelah 40 tahun areal
makam Krambangan penuh dan Majelis Gereja pada tahun 1835 meminta kepada
Residen Surabaya untuk diberikan sebidang tanah yang nantinya akan digunakan
sebagai areal pemakaman selanjutnya. Dana yang disediakan sebesar 2000 gulden
yang digunakan untuk membuka areal pemekaman di daerah Kupang, namun karena
lokasinya yang terlampau jauh dari kota maka areal ini ditolak (disebutkan pada
tahun 1835 diupayakan dibuka lahan makam baru namun tidak terwujud.
![]() |
| Bagian depan (pintu masuk) dari makam Belanda Peneleh foto masa lalu dan masa kini |
Pada
tanggal 26 Februari 1846 pemerintah menyediakan dana sebesar 10.000 gulden yang
digunakan untuk membuaka areal pemakaman baru di Kampung Peneleh, maka dengan
pengawasan seorang arsitek bernama Ir Geil, pembukaan lahan ini mulai dari
peninggian tanah, pembuangan air dan pembukaan jalan. Sehingga pada bulan
Agustus 1847 Areal makam Peneleh telah selesai, dan baru dibuka pada tanggal 1
Desember 1847. Namun 70 tahun kemudian areal makam ini menyempit dan harus
dicarikan areal baru untuk pemakaman. Maka dipilihlah daerah Kembang Kuning
pada tahun 1916 sebagai areal makam baru pengganti dari Makam Peneleh. Sangat banyak sekali tokoh tokoh yang dimakamkan dipemakaman ini beberapanya tokoh tokoh terkenal dan pembaharu. bahkan ada pula seorang resident dan Gubernur Jenderal. Sebagian yang terkenal akan diulas dalam artikel dibawah ini dengan membandingkan foto lama dengan foto masa sekarang.
MAKAM PIETER MERKUS SANG GUBERNUR JENDERAL
Pietermaat merupakan salah seorang Resident yang
memerintah di Surabaya pada tahun 1839- 1849. Dia meninggal pada 30 November
1848 dan dimakamkan dimakam Peneleh. Nisan pada makamnya sudah hancur dan
berserakan ditanah makamnya saat ini. Banyak dari serakan nisan tersebut yang
tidak lengkap sehingga inskripsi yang tertulis dinisan tersebut sudah tidak
dapat dibaca lagi. Pietermaat menikahi seorang wanita yang bernama Johanna
Magdalena Ringeling. Dan mereka dikaruniai serorang puteri yang bernama Marie
Anne Pietermaat. Putri ini nantinya akan menikahi seorang pemuda yang bernama
Ary Prins yang nantinya dia akan menjabat sebagai Gubernur Jenderal sementara (karena
Gubernur Jenderal selanjutnya belam datang dari Belanda) selama dua periode.
Prins menikahi Marie Anne Pietermaat pada 29 April 1840. Marie adalah putri
dari pasangan Daniël François Willem Pietermaat dan Johanna Magdalena
Ringeling. Saat itu Pietermaat menjabat sebagai Residen Surabaya. Selain itu
Pietermaat itu juga pernah menjabat sebagai Residen Manado, yang mengawasi
pemindahan Pangeran Diponegoro dari Fort Amsterdam di Manado ke Fort Rotterdam
di Makassar.
Pada sekitar tahun 1872 terjadi pembaharuan perangkat pendidikan yang
memunculkan sekolah khusus gadis. Pada tahun tersebut juga telah dibuka sekolah
khusus gadis yang berlokasi di Jalan Gatotan, namun setahun kemudian lokasi
dari sekolah ini dipindahkan ke derah Komedieplein atau pada masa sekarang
disebut jalan Merak. Pada masa itu, dari tahun 1872-1883 yang menjabat sebagai
direktur sekolah bernama W . J. Huygens. Pada tahun 1877 dibuka cabang
sekolah di sekitar jembatan Bibis. Pada tahun 1883-1892 sistem pendidikan
diperbaharui dan direorganisasi kembali dan seorang mantan guru dari sekolah
panti asuhan Protestan di Semarang yang bernama Rosalia Josepha Almerood
menjadi direktur menggantikan W . J. Huygens. Sekolah khusus gadis sangat
berkembang pada masa pimpinannya, bahkan ketika pada tahun 1892 saat R.J
Almerood jatuh sakit tetap mengatur dan mengurus urusan sekolah. Dari hal ini
membuat R.J Almerood sangat dicintai oleh siswinya. Pada akhirnya untuk
menyembuhkan penyakitnya perlu diadakan operasi, namun karena fasilitas di
Surabaya belum memadai maka, R.J Almerood dirujuk ke klinik Dr. Van Buuren yang
berlokasi di Jombang. Namun pada akhirnya nyawanya tidak tertolong dan akhirnya
meninggal. Pada awalnya R.J Almerood dimakamkan di Jombang, namun karena
desakan dewan, staf, teman, guru, murid dan pada orang tua murid, pada akhirnya
makam dari R.J Almerood dipindahkan ke Surabaya dan dimakamkan di makam Belanda
Peneleh. Pada nisan makam tertulis: “Rosalie, Josepha Almerood, In leven directrice der Particuliere
Meisjesschool, Hare Leerlinge” yang berarti Rosalie,
Josepha Almerood hidup sebagai direktur sekolah khusus gadis, (dari) muridnya.
![]() |
| Bagian dalam makam Belanda Peneleh dilihat dari gerbang utama |
MAKAM PIETER MERKUS SANG GUBERNUR JENDERAL
![]() |
| Perbandingan makam Pieter Merkus dulu (sumber foto dari Oud Soerabaia) dan sekarang |
Pieter
Merkus
lahir di Naarden,
Holland Utara,
Belanda,
18
Maret 1787 – meninggal
di Surabaya,
Jawa
Timur, Hindia
Belanda (kini wilayah Indonesia),
2
Agustus 1844
pada umur 57 tahun. Pieter Merkus adalah Gubernur-Jenderal Hindia
Belanda yang ke 47. Ia memerintah antara tahun 1841-1844.
Gubernur Jenderal Pieter Merkus satu-satunya pejabat tertinggi di negeri ini
yang meninggal saat menjabat. Pilihannya pindah di Surabaya saat sakit menjadi
tanda tanya sampai sekarang. Menurut salah satu ahli waris pemuka Belanda yang
dimakamkan di Peneleh, Rob van de Ven Renardel, keputusan Merkus di akhir
hayatnya menimbulkan teka-teki di Sejarah Belanda. Merkus, kata Rob, yang
tinggal di Batavia memutuskan tinggal di Istana Bogor ketika sakit. “Namun,
ketika kesehatannya makin buruk, dia memilih tinggal di Istana Simpang di Surabaya,”
kata Rob dalam Majalah Monsun. Majalah ini terbit di Belanda10 April 1999.
Perjalanan di Batavia-Surabaya yang melelahkan hampir sepekan itu justru
membuat sakitnya bertambah parah. Ada dugaan Merkus ingin istirahat sehingga
memilih kota panas. “Namun, pandangan lain yakin Merkus disingkirkan dari
kekuasaan dan diasingkan oleh Belanda karena dianggap tidak loyal,” ujar
Metselaar.
![]() | |
| Nisan dari Pieter Merkus (sumber Oud Serabaia) |
Prasasti di atas makam Merkus yang berusia hampir 174 tahun masih jelas
bisa dibaca. Prasati ini berbahasa Belanda kuno tertulis “Zijne Excellentie Mr. Pieter Merkus, Kommandeur der Orde van den
Nederlandschen Leeuw, Ridder van het Legioen van Eer van Frankrijk,
GouverneurGeneraal van Nederlandsch-Indié, Opperbevelhebber der Land- en
Zeemagt beoosten de Kaap de Goede Hoop, enz. enz. enz., overleden ten huize
Simpang den 2en Augustus 1844” yang artinya sebagai berikut: Paduka yang
mulia Pieter Merkus, komandan pasukan tempur Hindia, veteran perang Prancis,
Gubernur Jenderal Hindia Belanda, memimpin tanah dan laut harapan Tuhan dan
lain-lain. Beliau wafat di Simpang Huis (Istana Simpang atau Grahadi) 2 Agustus
1844. Pada makam Pieter Merkus juga terdapat pola hiasan daun Akantus yang pada
umumnya banyak terdapat dimakam-makam kuno sebelum tahun 1700an. Daun akantus
dapat diartikan sebagai lambang hidup, damai, abadi dan mulia. Seharusnya untuk
seorang Gubernur Jenderal terdapat banyak ragam hiasan dan pola ukiran pada
makam, namun untuk makam Pieter Merkus hanya terdapat hiasan Akantus saja. Hal
ini karena setelah revolusi Perancis tahun1789-1799 penggunaan lambang heraldik
atau lambang kebangsawanan dilarang keras bahkan digambarkan pada nisan makam.
Hal ini yang menyebabkan makam-makam
tahun 1800 keatas tidak banyak yang memiliki ornamen atau ukiran-ukiran seperti
di Museum Taman Prasasti Jakarta.
MAKAM
MARTINUS VAN DEN ELZEN SANG PENYEBAR AGAMA
![]() |
| Perbandingan makam van den Elzzen dulu (sumber foto dari Oud Soerabaia) dan sekarang |
Pastor Martinus van den Elzen lahir 11 Maret 1822, meninggal
di Surabaya pada 19 Juli 1866, sebelum datang di Surabaya telah memainkan
peranan penting dalam pengajaran spiritual dari gereja
Katolik
Roma. Monumen yang indah, didirikan di makam Pastor Martinus
van den Elzen di pemakaman di Peneleh. Nisan makam yang besar tersebut diukir
oleh pematung Belanda Kuyper dari batu Maastricht dengan
gaya pahat gothik. Pada
makam tersebut tertulis dengan sangat jelas:
“hier ligt begraven de weleer waar de heer
pastoor der gemeente te Soerabaia geboren te gemert den 11 april 1882 en
overleden re soerabaia den 19 juli 1866 zalig zijn de dooden die in den heer
sterven want hunne werken volgen hun zijne parochianen en vrienden” yang artinya "Di sini dimakamkan
hari-hari tua dari seorang pendeta jemaat di Surabaya lahir pada 11 April 1882,
dan meninggal di Surabaya pada 19 Juli 1866, Diberkati adalah orang mati yang
mati di dijalan Tuhan, karena pekerjaan
mereka akan mengikuti paroki dan
teman-teman mereka."
MAKAM
DE PEREZ SANG RESIDENT SURABAYA
![]() |
| Perbandingan makam de Perez dulu (sumber foto dari Oud Soerabaia) dan sekarang |
Pierre Jean Baptiste de Perez merupakan seorang Residen yang pernah memimpin Surabaya pada tahun 1848-1853.
De Perez dilahirkan di kota Hertogenbosch pada 1 Desember 1803. Dan meninggal
pada 16 Maret 1859 di Surabaya dan dimakamkan pemakaman Peneleh pada 29 Maret
1859. De Peres merupakan residen Surabaya yang pada masa itu kantor Residen
masih berada didaerah Jematan Merah atau pada masa itu dikenal dengan nama
Willemskade. Menggantikan Resident sebelumnya yaitu Daniel Franscois Willem
Pietermaart yang juga dimakamkan di makam Peneleh. Makam dari de Perez dibuat
sangat tinggi dan besar yang menggunakan bahan dari logam dibagian atas
diletakkan piala sebagai lambang penghargaan atas jasa-jasanya. Salah satu jasa
yang besar yang juga tertulis dimakamnya adalah menjadi wakil Presiden van de
Raad van Indie sebagai Komisaris Gubernur untuk Ekspedisi Bonic. Tugas ini merupakan upaya
Belanda untuk menghukum raja Bone yang tidak mau tunduk kepada Belanda saat
itu. Tulisan pada makam de Perez cukup panjang dan tertulis sebagai berikut: “Hier rust. Het stoffelijk overschot van den
H.E.G. Heer P.J.B. de Perez in leven. Vice presiden van den raad van Indie
gouvernements kommissaris voor de bonische expedite. Ridder der orde van den Nederlandschen.
Leuw ridder met de ster der orde van den eikenkroon. Kommandeur der koninklijke
leopolds orde van belgie. Geboren 1 december 1803 tes Hertogenbosch. overleden
den 16 maart 1859 ter reede van badjoa alhier begraven den 29 maart 1859. Hij was
hoog geacht bemind bij allen zijn onverwacht en plotseling afster is een groot
verlies voor het vaderland onherstelbaar voor gade en kroost treffend vor zijne
vrienden.” Tulisan tersebut memiliki arti sebagai berikut Beristirahat disini sisa-sisa fana (tubuh) dari H.E.G. Tuan P.J.B. de Perez tetap hidup. Wakil presiden van de raad van Indie sebagai Komisaris Gubernur untuk
Ekspedisi Bonic. Satria orde Belanda. Singa kesatria dengan
bintang tanda jasa dari tatanan dari mahkota pohon ek. Komandan
ordo leopold kerajaan belgium. Lahir 1 Desember 1803 di Hertogenbosch. Meninggal pada 16 Maret 1859 di Badjoa dan
dimakamkan disini pada tanggal 29 Maret 1859. Dia sangat dicintai
oleh semua orang, dan kematiannya yang mendadak merupakan kerugian yang sangat
besar bagi semua orang dan tanah airnya. Dan menjadi renungan bagi
teman-temannya.
MAKAM
MERE LOUISE DAN SUSTER URSULIN SANG SUSTER
![]() |
| Perbandingan makam para Suster Ursulin dulu (sumber foto dari Oud Soerabaia) dan sekarang |
Makam
ini merupakam makam dari para Suster Ursulin. Banyak nama yang berada dimakam
ini karena memang makam ini dimaksudkan untuk makam kolektif para Suster
Ursulin. Namun terdapat satu nama dengan nisan paling besar dan paling atas
yang bernama Mere Louise. Dia merupakan pemimpin pertama Suster Ursulin yang
pada awalnya berpusan di Kepanjen. Tidak diketahui lokasi dan tanggal lahirnya,
namun dimakam disebutkan bahwa dia meninggal di Surabaya pada 18 Maret 1890. Mère Louise merupakan pimpinan dari lima Ursulin pertama,
dan menetap di Surabaya pada 1863 untuk mengabdikan diri memberikan pendidikan
kepada anak perempuan. Pendidikan
ini nantinya akan berkembang menjadi pendidikan Santa Maria di Jalan Darmo
lihat artikel sebelumnya (Gereja Santa Maria). Pada makam ini terdapat tulisan “Ter Gedachtenis
Aan De.Eerw. Moeder Louise, eeste overste der eerw zusters ursulinen soerabaia
Overleden 14 Maart 1890 Van Hare Dankbare Leerlingen” yang artinya Yang Terkenang Aan. De Eerw ibu Louise yang
merupakan pemimpin pertama Suster Ursulin Surabaya. Meninggal 14 Maret 1890.
Dari para murid-murid dengan penuh rasa terimakasih. Selain itu juga terdapat
makam tulisan untuk seseorang yang juga cukup berjasa, sehingga namanya juga
ditulis di nisan yang paling besar dan paling atas. Dia adalah Suster
Aldegonde, nisannya berbunyi; “Ter
Gedachtenis Aan De.Eerw. Moeder aldegonde Overste der zusters ursulinen te Buitenzorg
overleden te Soerabaia 17 December 1914. Yang artinya Yang Terkenang Aan.
De Eerw ibu Aldegonde Senior para Suster dati Bogor, meninggal di Surabaya 17
Desember 1914. Selain ini diujung makam juga terdapat tulisan “Zy
Rusten in Vrede” yang memiliki arti mereka beristirahat dalam damai,
kata-kata ini digunaan karena banyanya suster yang dimakamkan didalam satu
liang lahay ini. Terdapat 30 Suster yang dimakamkan dalam satu liang lahat ini
termasuk suster Mere Louse dan Suster Aldegonde, nama-nama suster tersebut
antara lain: Moeder Louise, Zuster Alphonse, Moeder Aldegonde, Zuster Ursule, Zuster
Thérèse, Zuster Agnes, Zuster Euphrasie, Zuster Imelda, Zuster Josephine,
Zuster Olive, Zuster Rosalie, Zuster Ursula, Zuster Stainslas, Zuster Lucie,
Zuster Marguerite, Zuster Marie, Zuster Odilie, Zuster Laurence, Zuster Anna,
Zuster Gerarda, Zuster Augustine, Zuster Helene, Zuster Brigitte, Zuster
Angela, Zuster Agnes, Zuster Aloysia, Zuster Cunère, Zuster Thérese, dan Zuster
Francoise.
MAKAM
JOHANNES EMDE SANG PEMBUAT JAM
![]() |
| Perbandingan makam Johannes Emde dulu (sumber foto dari Oud Soerabaia) dan sekarang |
Johannes
Emde adalah seorang pembuat
jam yang berdarah Jerman. Dalam
buku Oud Soerabaia kaya von Faber disebutkan bahwa Emde adalah seorang yang sangat luar biasa. Dia Lahir 18 Desember 1774 di Schmillinghausen di Jerman,
sebagai putra seorang penggiling miskin, ia berangkat ke Amsterdam pada tahun
1801 dengan harapan mendpatkan pekerjaan yang lebih
baik dari ayahnya. Pada
saat sudah sampai disana dia mendengar tentang
darah kekuaasaan Beland di Asia yang bernama Hindia Belanda, maka dia bernagkat sebagai seorang pelaut pada tahun 1802,
dan tiba di
Batavia pada 30 Oktober 1802.
Dia juga pernah turut serta ikut berperang dipihak belanda dalam melawan
perompak di Banjarmasin. Dia kembali
ke Jawa pada tahun 1808, dan menetap segera di Surabaya, dia bekerja di pembuat model di Toko Konstruksi. Setelah setahun kemudia dia mengundurkan diri dan mulai bisnis dengan satu rekan senegaranya yang bernama Lamprecht,
mendirikan bengkel tukang arloji, yang kemudian usahanya tersebut berkembang
sangat pesat. Selain sebagai ahli arloji Emde juga sangat aktif dalam
penyebaran agama Kristen. Pada tahun 1828 dia meninggalkan Surabaya dan
menyebarkan agama Kristen kedaerah Mojokerto dan sekitarnya. Karena jasanya
dalam penyebaran agama Kristen yang khusus di daerah Jawa Timur maka ketika dia
meninggal jemaatnya membuatkan monumen yang sangat indah dimakamnya yang berada
dipemakaman Peneleh Surabaya. Pada makamnya terdapat tulisan berbahasa Jerman
yang berbunyi “Zum Gedenken an den Uhrmacher von Surabaya Johannes
Emde Vater der Evangelischen Kirche in Ostjava Geboren in Schmillinghausen
1774-Gestorben in Surabaya 1859” yang artinya: "Untuk mengenang pembuat jam Surabaya Johannes
Emde, Ayah dari Gereja Injili di Jawa Timur Lahir di Schmillinghausen
1774-Meninggal di Surabaya 1859.
MAKAM
DANIEL FRANCOIS WILLEM PIETERMAAT SANG RESIDENT
![]() |
| Perbandingan makam Pietermaat dulu (sumber foto dari Oud Soerabaia) dan sekarang |
MAKAM ROSALIA
JOSEPHA ALMEROOD SANG DIREKTUR SEKOLAH
![]() |
| Perbandingan makam Almerood dulu (sumber foto dari Oud Soerabaia) dan sekarang |
Betapa indah areal pemakaman diatas, betapa banyak pelajaran dan ilmu sejarah yang terandung didalamnya. Sayangnya areal pemakaman diatas sedikit kurang mendapatkan perhatian. Memang untuk biaya renovasi dan perawatan begitu besar. Namun jika dapat dikelola dengan baik areal pemakaman di Peneleh dapat menjadi sarana wisata edukasi deperti Museum Taman Prasasti Di Jakarta. Semoga dengan artikel ini dapat terwujud Museum Taman Makam Belanda Peneleh Surabaya.
.
SELAMATKAN BANGUNAN CAGAR BUDAYA
SELAMI KOTAMU DARI MASA LALU
JAGA KOTAMU DI MASA KINI
.
sumber:
National Geographic
AYO IKUTI KOMPETISI " BLOG CAGAR BUDAYA INDONESIA"
"RAWAT ATAU MUSNAH!"
.
SELAMATKAN BANGUNAN CAGAR BUDAYA
SELAMI KOTAMU DARI MASA LALU
JAGA KOTAMU DI MASA KINI
.
sumber:
Oud
Surabaia, von Faber
Krancher.com
Makna Sosio-Historis
Batu Nisan VOC di Batavia, Lilie Suratminto National Geographic
AYO IKUTI KOMPETISI " BLOG CAGAR BUDAYA INDONESIA"
"RAWAT ATAU MUSNAH!"











No comments:
Post a Comment