Monday, September 9, 2019

BEGRAAFPLAATS TE PENELEH CAGAR BUDAYA INDONESIA


PROLOG

Makam di Indonesia pada masa sekarang umumnya berbentuk sederhana dengan penanda nisan yang menjadi identitas dari siapa yang beristirahat di dalamnya. Pada masyarakat Islam umumnya jenazah akan dibungkus dengan kain kafan lalu dikebumikan dengan dipasang nisan yang diberi nama tanggal lahir dan kematian. Masyarakat etnis China membuat makam dengan ukuran yang sangat besar dengan liang lahat yang berbentuk seperti rungan, umumnya disebut dengan nama makam "bong". Umat Nasrani juga memiliki makam yang jenazahnya diletakkan kedalm peti lalu dikubur dengan nisan berbentuk salib. Lalu bagaimana makam masyarakat Belanda yang dulu pernah tinggal dan menetap di Indonesia??

Masyarakat Belanda sejak dulu memiliki kebiasaan membangun areal pemakaman yang dekat dengan lingkungan Gereja. Pada masa kolonial Belanda, kebiasaaan ini juga dilakukan disekitaran lingkungan gereja. Namun lingkungan gereja yang dekat dengan wilayah pemukiman warga juga menimbulkan permasalahan kesehatan. Terlebih bangsa Belanda yang datang ke wilayah Hindia Belanda banyak sekali yang terkena penyakit topis (tidak tahan dengan cuaca yang sangat berbeda dengan Eropa) sehigga banyak sekali bangsa Belanda yang meninggal di usia muda (makam peneleh banyak sekali jenazah yang berumur muda). Maka dari itu sejak tanggal 25 Januari 1793 Majelis Gereja melarang pemakaman disekitar areal gereja. Pemakaman selanjutnya diarahkan diluar kota tepi barat, tepatnya didaerah Krambangan. Setelah 40 tahun areal makam Krambangan penuh dan Majelis Gereja pada tahun 1835 meminta kepada Residen Surabaya untuk diberikan sebidang tanah yang nantinya akan digunakan sebagai areal pemakaman selanjutnya. Dana yang disediakan sebesar 2000 gulden yang digunakan untuk membuka areal pemekaman di daerah Kupang, namun karena lokasinya yang terlampau jauh dari kota maka areal ini ditolak (disebutkan pada tahun 1835 diupayakan dibuka lahan makam baru namun tidak terwujud. 

Bagian depan (pintu masuk) dari makam Belanda Peneleh foto masa lalu dan masa kini

Pada tanggal 26 Februari 1846 pemerintah menyediakan dana sebesar 10.000 gulden yang digunakan untuk membuaka areal pemakaman baru di Kampung Peneleh, maka dengan pengawasan seorang arsitek bernama Ir Geil, pembukaan lahan ini mulai dari peninggian tanah, pembuangan air dan pembukaan jalan. Sehingga pada bulan Agustus 1847 Areal makam Peneleh telah selesai, dan baru dibuka pada tanggal 1 Desember 1847. Namun 70 tahun kemudian areal makam ini menyempit dan harus dicarikan areal baru untuk pemakaman. Maka dipilihlah daerah Kembang Kuning pada tahun 1916 sebagai areal makam baru pengganti dari Makam Peneleh. Sangat banyak sekali tokoh tokoh yang dimakamkan dipemakaman ini beberapanya tokoh tokoh terkenal dan pembaharu. bahkan ada pula seorang resident dan Gubernur Jenderal. Sebagian yang terkenal akan diulas dalam artikel dibawah ini dengan membandingkan foto lama dengan foto masa sekarang.


Bagian dalam makam Belanda Peneleh dilihat dari gerbang utama

MAKAM PIETER MERKUS SANG GUBERNUR JENDERAL

Perbandingan makam Pieter Merkus dulu (sumber foto dari Oud Soerabaia) dan sekarang


Pieter Merkus lahir di Naarden, Holland Utara, Belanda, 18 Maret 1787 – meninggal di Surabaya, Jawa Timur, Hindia Belanda (kini wilayah Indonesia), 2 Agustus 1844 pada umur 57 tahun. Pieter Merkus adalah Gubernur-Jenderal Hindia Belanda yang ke 47. Ia memerintah antara tahun 1841-1844. Gubernur Jenderal Pieter Merkus satu-satunya pejabat tertinggi di negeri ini yang meninggal saat menjabat. Pilihannya pindah di Surabaya saat sakit menjadi tanda tanya sampai sekarang. Menurut salah satu ahli waris pemuka Belanda yang dimakamkan di Peneleh, Rob van de Ven Renardel, keputusan Merkus di akhir hayatnya menimbulkan teka-teki di Sejarah Belanda. Merkus, kata Rob, yang tinggal di Batavia memutuskan tinggal di Istana Bogor ketika sakit. “Namun, ketika kesehatannya makin buruk, dia memilih tinggal di Istana Simpang di Surabaya,” kata Rob dalam Majalah Monsun. Majalah ini terbit di Belanda10 April 1999. Perjalanan di Batavia-Surabaya yang melelahkan hampir sepekan itu justru membuat sakitnya bertambah parah. Ada dugaan Merkus ingin istirahat sehingga memilih kota panas. “Namun, pandangan lain yakin Merkus disingkirkan dari kekuasaan dan diasingkan oleh Belanda karena dianggap tidak loyal,” ujar Metselaar. 

Nisan dari Pieter Merkus (sumber Oud Serabaia)

Prasasti di atas makam Merkus yang berusia hampir 174 tahun masih jelas bisa dibaca. Prasati ini berbahasa Belanda kuno tertulis “Zijne Excellentie Mr. Pieter Merkus, Kommandeur der Orde van den Nederlandschen Leeuw, Ridder van het Legioen van Eer van Frankrijk, GouverneurGeneraal van Nederlandsch-Indié, Opperbevelhebber der Land- en Zeemagt beoosten de Kaap de Goede Hoop, enz. enz. enz., overleden ten huize Simpang den 2en Augustus 1844” yang artinya sebagai berikut: Paduka yang mulia Pieter Merkus, komandan pasukan tempur Hindia, veteran perang Prancis, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, memimpin tanah dan laut harapan Tuhan dan lain-lain. Beliau wafat di Simpang Huis (Istana Simpang atau Grahadi) 2 Agustus 1844. Pada makam Pieter Merkus juga terdapat pola hiasan daun Akantus yang pada umumnya banyak terdapat dimakam-makam kuno sebelum tahun 1700an. Daun akantus dapat diartikan sebagai lambang hidup, damai, abadi dan mulia. Seharusnya untuk seorang Gubernur Jenderal terdapat banyak ragam hiasan dan pola ukiran pada makam, namun untuk makam Pieter Merkus hanya terdapat hiasan Akantus saja. Hal ini karena setelah revolusi Perancis tahun1789-1799 penggunaan lambang heraldik atau lambang kebangsawanan dilarang keras bahkan digambarkan pada nisan makam. Hal ini yang  menyebabkan makam-makam tahun 1800 keatas tidak banyak yang memiliki ornamen atau ukiran-ukiran seperti di Museum Taman Prasasti Jakarta.

MAKAM MARTINUS VAN DEN ELZEN SANG PENYEBAR AGAMA
Perbandingan makam van den Elzzen dulu (sumber foto dari Oud Soerabaia) dan sekarang
Pastor Martinus van den Elzen lahir 11 Maret 1822, meninggal di Surabaya pada 19 Juli 1866, sebelum datang di Surabaya telah memainkan peranan penting dalam pengajaran spiritual dari gereja Katolik Roma. Monumen yang indah, didirikan di makam Pastor Martinus van den Elzen di pemakaman di Peneleh. Nisan makam yang besar tersebut diukir oleh pematung Belanda Kuyper dari batu Maastricht dengan gaya pahat gothik. Pada makam tersebut tertulis dengan sangat jelas:
“hier ligt begraven de weleer waar de heer pastoor der gemeente te Soerabaia geboren te gemert den 11 april 1882 en overleden re soerabaia den 19 juli 1866 zalig zijn de dooden die in den heer sterven want hunne werken volgen hun zijne parochianen en vrienden” yang artinya "Di sini dimakamkan hari-hari tua dari seorang pendeta jemaat di Surabaya lahir pada 11 April 1882, dan meninggal di Surabaya pada 19 Juli 1866, Diberkati adalah orang mati yang mati di dijalan Tuhan, karena pekerjaan mereka akan mengikuti paroki dan teman-teman mereka."

MAKAM DE PEREZ SANG RESIDENT SURABAYA

Perbandingan makam de Perez dulu (sumber foto dari Oud Soerabaia) dan sekarang

Pierre Jean Baptiste de Perez merupakan seorang Residen yang pernah memimpin Surabaya pada tahun 1848-1853. De Perez dilahirkan di kota Hertogenbosch pada 1 Desember 1803. Dan meninggal pada 16 Maret 1859 di Surabaya dan dimakamkan pemakaman Peneleh pada 29 Maret 1859. De Peres merupakan residen Surabaya yang pada masa itu kantor Residen masih berada didaerah Jematan Merah atau pada masa itu dikenal dengan nama Willemskade. Menggantikan Resident sebelumnya yaitu Daniel Franscois Willem Pietermaart yang juga dimakamkan di makam Peneleh. Makam dari de Perez dibuat sangat tinggi dan besar yang menggunakan bahan dari logam dibagian atas diletakkan piala sebagai lambang penghargaan atas jasa-jasanya. Salah satu jasa yang besar yang juga tertulis dimakamnya adalah menjadi wakil Presiden van de Raad van Indie sebagai Komisaris Gubernur untuk Ekspedisi Bonic. Tugas ini merupakan upaya Belanda untuk menghukum raja Bone yang tidak mau tunduk kepada Belanda saat itu. Tulisan pada makam de Perez cukup panjang dan tertulis sebagai berikut: “Hier rust. Het stoffelijk overschot van den H.E.G. Heer P.J.B. de Perez in leven. Vice presiden van den raad van Indie gouvernements kommissaris voor de bonische expedite. Ridder der orde van den Nederlandschen. Leuw ridder met de ster der orde van den eikenkroon. Kommandeur der koninklijke leopolds orde van belgie. Geboren 1 december 1803 tes Hertogenbosch. overleden den 16 maart 1859 ter reede van badjoa alhier begraven den 29 maart 1859. Hij was hoog geacht bemind bij allen zijn onverwacht en plotseling afster is een groot verlies voor het vaderland onherstelbaar voor gade en kroost treffend vor zijne vrienden.” Tulisan tersebut memiliki arti sebagai berikut Beristirahat disini sisa-sisa fana (tubuh) dari H.E.G. Tuan P.J.B. de Perez tetap hidup. Wakil presiden van de raad van Indie sebagai Komisaris Gubernur untuk Ekspedisi Bonic. Satria orde Belanda. Singa kesatria dengan bintang tanda jasa dari tatanan dari mahkota pohon ek. Komandan ordo leopold kerajaan belgium. Lahir 1 Desember 1803 di Hertogenbosch. Meninggal pada 16 Maret 1859 di Badjoa dan dimakamkan disini pada tanggal 29 Maret 1859. Dia sangat dicintai oleh semua orang, dan kematiannya yang mendadak merupakan kerugian yang sangat besar bagi semua orang dan tanah airnya. Dan menjadi renungan bagi teman-temannya.  

MAKAM MERE LOUISE DAN SUSTER URSULIN SANG SUSTER

Perbandingan makam para Suster Ursulin dulu (sumber foto dari Oud Soerabaia) dan sekarang

Makam ini merupakam makam dari para Suster Ursulin. Banyak nama yang berada dimakam ini karena memang makam ini dimaksudkan untuk makam kolektif para Suster Ursulin. Namun terdapat satu nama dengan nisan paling besar dan paling atas yang bernama Mere Louise. Dia merupakan pemimpin pertama Suster Ursulin yang pada awalnya berpusan di Kepanjen. Tidak diketahui lokasi dan tanggal lahirnya, namun dimakam disebutkan bahwa dia meninggal di Surabaya pada 18 Maret 1890. Mère Louise merupakan pimpinan dari lima Ursulin pertama, dan menetap di Surabaya pada 1863 untuk mengabdikan diri memberikan pendidikan kepada anak perempuan. Pendidikan ini nantinya akan berkembang menjadi pendidikan Santa Maria di Jalan Darmo lihat artikel sebelumnya (Gereja Santa Maria). Pada makam ini terdapat tulisan Ter Gedachtenis Aan De.Eerw. Moeder Louise, eeste overste der eerw zusters ursulinen soerabaia Overleden 14 Maart 1890 Van Hare Dankbare Leerlingen” yang artinya Yang Terkenang Aan. De Eerw ibu Louise yang merupakan pemimpin pertama Suster Ursulin Surabaya. Meninggal 14 Maret 1890. Dari para murid-murid dengan penuh rasa terimakasih. Selain itu juga terdapat makam tulisan untuk seseorang yang juga cukup berjasa, sehingga namanya juga ditulis di nisan yang paling besar dan paling atas. Dia adalah Suster Aldegonde, nisannya berbunyi; “Ter Gedachtenis Aan De.Eerw. Moeder aldegonde  Overste der zusters ursulinen te Buitenzorg overleden te Soerabaia 17 December 1914. Yang artinya Yang Terkenang Aan. De Eerw ibu Aldegonde Senior para Suster dati Bogor, meninggal di Surabaya 17 Desember 1914. Selain ini diujung makam juga terdapat tulisan  Zy Rusten in Vrede” yang memiliki arti mereka beristirahat dalam damai, kata-kata ini digunaan karena banyanya suster yang dimakamkan didalam satu liang lahay ini. Terdapat 30 Suster yang dimakamkan dalam satu liang lahat ini termasuk suster Mere Louse dan Suster Aldegonde, nama-nama suster tersebut antara lain: Moeder Louise, Zuster Alphonse, Moeder Aldegonde, Zuster Ursule, Zuster Thérèse, Zuster Agnes, Zuster Euphrasie, Zuster Imelda, Zuster Josephine, Zuster Olive, Zuster Rosalie, Zuster Ursula, Zuster Stainslas, Zuster Lucie, Zuster Marguerite, Zuster Marie, Zuster Odilie, Zuster Laurence, Zuster Anna, Zuster Gerarda, Zuster Augustine, Zuster Helene, Zuster Brigitte, Zuster Angela, Zuster Agnes, Zuster Aloysia, Zuster Cunère, Zuster Thérese, dan Zuster Francoise.

MAKAM JOHANNES EMDE SANG PEMBUAT JAM

Perbandingan makam Johannes Emde dulu (sumber foto dari Oud Soerabaia) dan sekarang

Johannes Emde adalah seorang pembuat jam yang berdarah Jerman. Dalam buku Oud Soerabaia kaya von Faber disebutkan bahwa Emde adalah seorang yang sangat luar biasa. Dia Lahir 18 Desember 1774 di Schmillinghausen di Jerman, sebagai putra seorang penggiling miskin, ia berangkat ke Amsterdam pada tahun 1801 dengan harapan mendpatkan pekerjaan yang lebih baik dari ayahnya. Pada saat sudah sampai disana dia mendengar tentang darah kekuaasaan Beland di Asia yang bernama Hindia Belanda, maka dia bernagkat sebagai seorang pelaut pada tahun 1802, dan tiba di Batavia pada 30 Oktober 1802. Dia juga pernah turut serta ikut berperang dipihak belanda dalam melawan perompak di Banjarmasin. Dia kembali ke Jawa pada tahun 1808, dan menetap segera di Surabaya, dia bekerja di pembuat model di Toko Konstruksi. Setelah setahun kemudia dia mengundurkan diri dan mulai bisnis dengan satu rekan senegaranya yang bernama Lamprecht, mendirikan bengkel tukang arloji, yang kemudian usahanya tersebut berkembang sangat pesat. Selain sebagai ahli arloji Emde juga sangat aktif dalam penyebaran agama Kristen. Pada tahun 1828 dia meninggalkan Surabaya dan menyebarkan agama Kristen kedaerah Mojokerto dan sekitarnya. Karena jasanya dalam penyebaran agama Kristen yang khusus di daerah Jawa Timur maka ketika dia meninggal jemaatnya membuatkan monumen yang sangat indah dimakamnya yang berada dipemakaman Peneleh Surabaya. Pada makamnya terdapat tulisan berbahasa Jerman yang berbunyi “Zum Gedenken an den Uhrmacher von Surabaya Johannes Emde Vater der Evangelischen Kirche in Ostjava Geboren in Schmillinghausen 1774-Gestorben in Surabaya 1859” yang artinya: "Untuk mengenang pembuat jam Surabaya Johannes Emde, Ayah dari Gereja Injili di Jawa Timur Lahir di Schmillinghausen 1774-Meninggal di Surabaya 1859.

MAKAM DANIEL FRANCOIS WILLEM PIETERMAAT SANG RESIDENT

Perbandingan makam Pietermaat dulu (sumber foto dari Oud Soerabaia) dan sekarang

Pietermaat merupakan salah seorang Resident yang memerintah di Surabaya pada tahun 1839- 1849. Dia meninggal pada 30 November 1848 dan dimakamkan dimakam Peneleh. Nisan pada makamnya sudah hancur dan berserakan ditanah makamnya saat ini. Banyak dari serakan nisan tersebut yang tidak lengkap sehingga inskripsi yang tertulis dinisan tersebut sudah tidak dapat dibaca lagi. Pietermaat menikahi seorang wanita yang bernama Johanna Magdalena Ringeling. Dan mereka dikaruniai serorang puteri yang bernama Marie Anne Pietermaat. Putri ini nantinya akan menikahi seorang pemuda yang bernama Ary Prins yang nantinya dia akan menjabat sebagai Gubernur Jenderal sementara (karena Gubernur Jenderal selanjutnya belam datang dari Belanda) selama dua periode. Prins menikahi Marie Anne Pietermaat pada 29 April 1840. Marie adalah putri dari pasangan Daniël François Willem Pietermaat dan Johanna Magdalena Ringeling. Saat itu Pietermaat menjabat sebagai Residen Surabaya. Selain itu Pietermaat itu juga pernah menjabat sebagai Residen Manado, yang mengawasi pemindahan Pangeran Diponegoro dari Fort Amsterdam di Manado ke Fort Rotterdam di Makassar. 

MAKAM ROSALIA JOSEPHA ALMEROOD SANG DIREKTUR SEKOLAH
Perbandingan makam Almerood dulu (sumber foto dari Oud Soerabaia) dan sekarang

Pada sekitar tahun 1872 terjadi pembaharuan perangkat pendidikan yang memunculkan sekolah khusus gadis. Pada tahun tersebut juga telah dibuka sekolah khusus gadis yang berlokasi di Jalan Gatotan, namun setahun kemudian lokasi dari sekolah ini dipindahkan ke derah Komedieplein atau pada masa sekarang disebut jalan Merak. Pada masa itu, dari tahun 1872-1883 yang menjabat sebagai direktur sekolah bernama W . J. Huygens. Pada tahun 1877 dibuka cabang sekolah di sekitar jembatan Bibis. Pada tahun 1883-1892 sistem pendidikan diperbaharui dan direorganisasi kembali dan seorang mantan guru dari sekolah panti asuhan Protestan di Semarang yang bernama Rosalia Josepha Almerood menjadi direktur menggantikan W . J. Huygens. Sekolah khusus gadis sangat berkembang pada masa pimpinannya, bahkan ketika pada tahun 1892 saat R.J Almerood jatuh sakit tetap mengatur dan mengurus urusan sekolah. Dari hal ini membuat R.J Almerood sangat dicintai oleh siswinya. Pada akhirnya untuk menyembuhkan penyakitnya perlu diadakan operasi, namun karena fasilitas di Surabaya belum memadai maka, R.J Almerood dirujuk ke klinik Dr. Van Buuren yang berlokasi di Jombang. Namun pada akhirnya nyawanya tidak tertolong dan akhirnya meninggal. Pada awalnya R.J Almerood dimakamkan di Jombang, namun karena desakan dewan, staf, teman, guru, murid dan pada orang tua murid, pada akhirnya makam dari R.J Almerood dipindahkan ke Surabaya dan dimakamkan di makam Belanda Peneleh. Pada nisan makam tertulis: “Rosalie, Josepha Almerood, In leven directrice der Particuliere Meisjesschool, Hare Leerlinge” yang berarti Rosalie, Josepha Almerood hidup sebagai direktur sekolah khusus gadis, (dari) muridnya. 
Betapa indah areal pemakaman diatas, betapa banyak pelajaran dan ilmu sejarah yang terandung didalamnya. Sayangnya areal pemakaman diatas sedikit kurang mendapatkan perhatian. Memang untuk biaya renovasi dan perawatan begitu besar. Namun jika dapat dikelola dengan baik areal pemakaman di Peneleh dapat menjadi sarana wisata edukasi deperti Museum Taman Prasasti Di Jakarta. Semoga dengan artikel ini dapat terwujud Museum Taman Makam Belanda Peneleh Surabaya. 
.
SELAMATKAN BANGUNAN CAGAR BUDAYA
SELAMI KOTAMU DARI MASA LALU
JAGA KOTAMU DI MASA KINI
.
sumber:

Oud Surabaia, von Faber

Krancher.com
Makna Sosio-Historis Batu Nisan VOC di Batavia, Lilie Suratminto
National Geographic

AYO IKUTI KOMPETISI " BLOG CAGAR BUDAYA INDONESIA"
"RAWAT ATAU MUSNAH!"

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhH5q9p1-0SwCx4ppCNXU1Y37m7oQiElMSuEwopo8nZa7A7kh8O3zundzGNlxGYrUhx3rBaFL6UP5jCjbV5QyqOAFp2UAko18Vz8H0oNkKFtf8EOArHhRX2lgDv1Wf1Uby2CXUtsIr2MD0/s640/Lomba+IIDN.png

No comments:

Post a Comment